Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 00:20 WIB

Ustadz Budi di RLC 2026: Harta Halal Fondasi Kepemimpinan Bersih dan Berintegritas

Author

Ustadz Budi Hariyanto membawakan materi bertema harta haram dalam sesi spiritual leadership Ramadan Leadership Camp (RLC) 2026. (Foto: Dok. Pemprov Sulsel)

SULSEL - Harta halal sebagai fondasi utama kepemimpinan yang berintegritas ditegaskan dalam sesi Spiritual Leadership Ramadan Leadership Camp (RLC) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan. Pesan itu disampaikan Ustadz Budi Hariyanto di hadapan peserta yang mayoritas aparatur dan pemangku kebijakan.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat mengisi materi di Asrama Haji Sudiang, Makassar, pada Selasa (24/2/2026). Forum itu menjadi bagian dari rangkaian pembinaan spiritual dalam agenda RLC 2026.

Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa misi utama diutusnya para rasul adalah mengenalkan Allah, mengajak manusia menyembah-Nya, serta menjelaskan konsekuensi kehidupan dunia dan akhirat. Keimanan kepada Allah dan hari akhir disebut sebagai motor terkuat dalam menjaga integritas amal.

"Setelah manusia diajak mengenal dan menyembah Allah Yang Maha Sempurna, maka mereka diperkenalkan tentang kehidupan dunia dan akhirat. Siapa yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya akan mendapatkan surga, sedangkan mereka yang menentang akan mendapatkan balasan neraka," ujarnya.

Baca juga: LKPP: Pengadaan Pemerintah Jadi Kunci Indonesia Emas 2045, Serap 2 Juta Tenaga Kerja per Rp400 Triliun PDN

Pembina Pondok Pesantren Imam Syafie Enrekang itu menekankan bahwa salah satu pokok dakwah para rasul adalah mencari rezeki yang halal. Prinsip tersebut dinilai menjadi pondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang bersih dan bertanggung jawab.

Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an, termasuk Surah Al-Mukminun dan Al-Baqarah ayat 172 yang memerintahkan umat beriman mengonsumsi rezeki yang baik dan halal. Menurutnya, ayat itu menegaskan keterkaitan erat antara kualitas iman dan sumber harta yang diperoleh.

"Agama Islam sangat menekankan pentingnya harta yang halal. Bahkan, itu merupakan sebaik-baik harta yang dapat dimiliki seorang muslim," jelas Ustadz Budi.

Baca juga: Kejati Sulsel Tegaskan Pendekatan Pencegahan Korupsi di Ramadan, Ferizal: Kami Bukan ‘Hantu’ bagi ASN

Ustadz Budi juga mengingatkan sabda Rasullullah bahwa makanan terbaik adalah hasil kerja tangan sendiri. Keteladanan tersebut dicontohkan oleh Nabi Daud yang tetap bekerja meski berstatus nabi sekaligus raja.

"Pertama, ini untuk memastikan bahwa harta yang diperoleh benar-benar bersih dari yang haram atau syubhat. Kedua, karena para nabi tidak diperbolehkan meminta upah dari umatnya, agar dakwah yang disampaikan tetap murni dan tidak terikat kepentingan duniawi," tuturnya.

Menurutnya, kemandirian ekonomi para nabi menjaga kemurnian dakwah dari intervensi kepentingan. Nilai itu relevan diterapkan dalam kepemimpinan modern agar tetap bersih, ikhlas, dan berorientasi akhirat.

"Di antara hikmah para nabi bekerja dengan tangan sendiri adalah agar dakwah yang disampaikan benar-benar bersih, ikhlas, dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan dunia," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Pemprov Sulsel

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU