Foto ilustrasi tradisi unik adu betis di Sulsel (Gemini AI)
SULSEL - Jelang peringatan 17 Agustus, para pemuda di Indonesia berlomba-lomba berpartisipasi dan melakukan tradisi uni yang menjadi ciri khas daerahnya.
Jika berbicara mengenai tradisi unik, tidak akan ada habisnya karena Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan tradisi unik jelang peringatan 17 Agustus, khusunya di Sulawesi Selatan
Adanya tradisi unik di Sulawesi Selatan lahir dari kondisi geografis yang terioslasi antarpulau sehingga membentuk kebudayaan yang mandiri.
Selain itu, tradisi unik di Sulawesi Selatan dipengaruhi oleh alkulturasi kepercayaan lokal dengan berbagai agama, seperti Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen yang bersatu padu menciptakan suatu kebiasaan turun temurun yang khas.
Lantas, tradisi unik apa yang dilakukan masyarakat Sulawesi Selatan jelang peringatan 17 Agustus? Merangkum dari berbagai sumber, berikut ulasan singkatnya di bawah ini.
Baca juga: Bikin Bangga! Ini Profil Pelajar dari Sulawesi Selatan yang Lolos Paskibraka 2026
Mengenal Adu Betis, Tradisi Unik di Sulawesi Selatan
Artikel di bawah ini mengulas, apa itu tradisi adu betis, lokasi pelaksanaan, serta apa makna filosofisnya.
Nama lain dari tradisi adu betis adalah Mallanca. Mallanca berasal dari kata lanca yaitu menyepak dan menggunakan tulang kering yang sasarannya adalah ganca-ganca yaitu bagian di atas tumit.
· Lokasi Pelaksanaan Tradisi Adu Betis
Tradisi unik ini diselenggarakan di sebuah makam leluhur, yakni makam Gallarang Moncongloe, leluhur desa Moncongloe yang juga paman Raja Gowa, Sultan Alauddin.
Sebelum tradisi ini berlangsung, akan diadakan makan besar.
Tradisi ini biasa digelar selama empat jam dengan aturan main ada empat pasang peserta. Permainan ini dilakukan secara berkelompok dengan cara mengadu betis para pemainnya.
Adu betis ini dilakukan di dalam lingkaran besar. Dua pemain memasang kuda-kuda dan pemain lainnya menendang betis tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IDN Times, Berbagai Sumber