SULSEL - Kabar bahagia datang dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babu), Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Seekor bayi Tarsius fuscus lahir di Suaka Tarsius Makassar, menandai kelahiran keenam yang sukses dalam kandang semi-alami.
Bayi yang diberi nama TARO itu lahir pada Sabtu (7/2/2026), di kawasan Pattunuang. Kelahiran ini memperkuat keberhasilan program habituasi yang telah berjalan sejak Desember 2024.
TARO merupakan anak dari induk betina TARI, keturunan TARA, dengan pejantan dewasa bernama TARU. Sebelumnya, TARA juga melahirkan TERA pada 1 Desember 2025 lalu.
Pengelola menyebut keberhasilan ini menjadi indikator stabilitas sosial kelompok dan kualitas habitat semi-alami yang terjaga. Pengaturan pakan, struktur vegetasi, hingga minimnya gangguan menjadi kunci reproduksi alami tetap berlangsung.
Baca juga: Pemprov Sulsel Klarifikasi Isu Satgas Demo, Tegaskan Bukan untuk Bungkam Kritik
"Kelahiran ini menunjukkan stabilitas sosial dan kualitas pengelolaan habitat semi-alami yang dipantau secara intensif," ujar Aswadi Hamid, Pengendali Ekosistem Hutan, dikutip Sabtu (14/2).
Pengamatan awal menunjukkan TARI menjalankan peran maternal dengan baik. Ia aktif menyusui, melakukan grooming, dan membawa bayinya sebagaimana perilaku alami tarsius di habitat liar.
Kondisi fisik TARO dilaporkan stabil dengan respons gerak aktif di bawah pengawasan induknya. Jenis kelaminnya masih dalam tahap observasi lebih lanjut.
Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab, menyampaikan apresiasi atas konsistensi keberhasilan reproduksi di dalam kandang suaka. Ia menilai kelahiran keenam ini sebagai tonggak penting konservasi berbasis sanctuary.
Baca juga: Wagub Sulsel Wanti-wanti Lonjakan Harga dan Ancaman Inflasi Jelang Ramadan
"Kelahiran keenam ini menunjukkan bahwa pengelolaan habitat semi-alami dan pola pakan yang terkontrol mampu mendukung siklus reproduksi alami Tarsius Makassar," ujarnya.
Kandang berukuran 24 x 18 x 6 meter itu dilengkapi bambu, pepohonan, serta suplai 25-50 serangga hidup per individu setiap malam. Pendekatan ini menjaga perilaku nokturnal dan insting berburu tetap terpelihara.
Hingga kini tercatat 24 individu tarsius pernah hidup di dalam kandang sejak 2011, dengan lima individu masih bertahan di area semi-alami. Sementara populasi liar di luar kandang pada area 6,17 hektare mencapai 36 individu dalam delapan kelompok.
Kelahiran TARO mempertegas peran Suaka Tarsius Makassar sebagai pusat konservasi, penelitian, dan ekowisata terintegrasi. Harapannya, generasi baru ini menjadi simbol optimisme pelestarian primata mungil endemik Sulawesi Selatan di tengah tekanan perubahan habitat.
"Kami berkomitmen untuk terus mendukung dan mengembangkan program konservasi Tarsius Makassar, sebagai bagian dari pelestarian keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan," imbuh Abdul Rajab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung