Sabtu, 23 AGUSTUS 2025 • 10:50 WIB

Kebakaran Hanguskan 3 Asrama Santri di Parepare, Diduga Dipicu Korsleting Listrik

Author

3 asrama Pesantren Zubdatul Asrar NU di Parepare ludes terbakar akibat korsleting listrik. (Foto: M.Faisal/SULSEL ZONE)

SULSEL - Tiga rumah panggung yang menjadi asrama putra Pesantren Zubdatul Asrar NU di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, ludes terbakar. Kebakaran diduga dipicu akibat korsleting listrik.

Peristiwa itu terjadi di Pondok Pesantren Zubdatul Asrar NU, Jalan Lappa Anging, Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Sabtu (23/8/2025) pagi. Saat kejadian berlangsung, asrama dalam kondisi kosong.

Kabid Penanggulangan Kebakaran Damkar Parepare, Fransiskus, menyebut api melahap bangunan hingga rata dengan tanah. Petugas yang tiba di lokasi langsung melakukan pemadaman agar api tidak merembet ke rumah lain.

"Saat sampai kami langsung melakukan pemadaman agar api tidak menjalar. Selanjutnya kita melakukan pendinginan," ujarnya.

Baca juga: Suami di Gowa Aniaya Istri Usai Ketahuan Selingkuh dengan Teman Korban

Sebanyak delapan armada dikerahkan bersama satu peleton personel untuk memadamkan api. Tiga unit mobil penembak, tiga tangki suplai air, dan satu dalmas turut disiagakan.

"Kami terjunkan 3 unit mobil penembak, 3 tangki suplai air serta dalmas," imbuh Fransiskus.

Fransiskus menjelaskan, kebakaran diduga muncul dari arus pendek listrik karena rumah dalam keadaan kosong tanpa dapur. Ia mengingatkan warga agar lebih waspada terhadap instalasi listrik, kompor, maupun kebiasaan membakar sampah.

Baca juga: Siswa SMP Bonceng Tiga Tewas Disenggol Minibus di Makassar, Pelaku Ditangkap usai Sempat Kabur

"Kami imbau seluruh masyarakat Parepare agar mencegah kebakaran. Di musim kemarau ini perhatikan instalasi listrik, kompor dan tidak membakar sampah di sembarang tempat," tandasnya.

Sementara itu, Pembina Asrama, Nur Hidayat menyebut api pertama kali terlihat dari meteran listrik salah satu rumah pondok. Dalam hitungan menit, kobaran api menjalar cepat hingga membakar tiga unit bangunan.

"Apinya muncul dari KWh listrik. Awalnya rumah di tengah lalu menjalar dengan cepat membakar 3 rumah pondok," ungkapnya.

Akibat kejadian itu, sebanyak 28 santri bersama pembina kehilangan pakaian, kitab, hingga tabungan. Mereka kini dipindahkan ke gedung baru yang masih kosong, namun masih membutuhkan pakaian untuk kebutuhan sehari-hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU