SULSEL - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wajo, Sulawesi Selatan, memperkuat strategi komunikasi digital di tengah maraknya disinformasi yang memengaruhi kepercayaan publik. Langkah ini diwujudkan dengan mengirim delegasi mengikuti pelatihan manajemen reputasi digital tingkat provinsi.
Kegiatan berlangsung di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel di Makassar pada 1–3 Mei 2026, diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah. Pelatihan ini membahas strategi komunikasi publik, manajemen krisis informasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam produksi konten.
Delegasi PDM Wajo terdiri dari Muh Hasbi Abbas, Irwan Sakaria, dan Wahiduddin Ridha. Keikutsertaan mereka menjadi bagian dari upaya membangun sistem komunikasi yang lebih terstruktur dan adaptif di era digital.
Hasbi Abbas menegaskan, reputasi digital tidak bisa dibangun hanya lewat pencitraan. Ia menilai kekuatan narasi harus didukung oleh konsistensi kerja nyata di tengah masyarakat.
Baca juga: 9 Fraksi DPRD Sulsel Serahkan Hasil Reses, Aspirasi Masyarakat Jadi Arah Baru Pembangunan
"Reputasi digital tidak dapat dibangun melalui pencitraan semata, tetapi harus bertumpu pada konsistensi kerja nyata Muhammadiyah di tengah masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan dakwah saat ini bukan hanya pada penyampaian pesan, tetapi juga pada tingkat kepercayaan publik terhadap informasi yang diterima. Menurutnya, derasnya arus disinformasi menuntut pengelolaan narasi yang lebih strategis.
"Arus informasi saat ini sangat cepat, termasuk disinformasi. Karena itu, Muhammadiyah harus mampu mengelola narasi publik secara lebih strategis," katanya.
Baca juga: Pemprov Sulsel Tetapkan 53 Informasi Publik 2026, Perkuat Transparansi
PDM Wajo menilai selama ini aktivitas digital masih didominasi publikasi kegiatan semata. Ke depan, pendekatan komunikasi akan diarahkan untuk membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, organisasi ini akan membentuk tim pengelola media dan memperkuat kanal komunikasi resmi. Selain itu, peningkatan kapasitas kader dalam literasi digital juga menjadi fokus utama.
"Ke depan, pengelolaan media tidak boleh lagi berjalan sporadis. Harus ada sistem yang jelas agar pesan Muhammadiyah tersampaikan secara konsisten dan berdampak," tambahnya.
Langkah ini diharapkan memperkuat posisi Muhammadiyah Wajo sebagai organisasi dakwah yang responsif terhadap perkembangan zaman. Transformasi digital dinilai menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik di tengah dinamika informasi yang terus berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis