SULSEL - Pelaku usaha muda di Sulawesi Selatan mulai mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat ekonomi kreatif. Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi interaktif yang digelar kalangan pengusaha muda di Makassar.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sulsel melalui Pelaksana BPBD HIPMI Bidang VIII. Acara dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Vann In Sky, Jalan Aroepala, Makassar, Senin (9/3/2026).
Diskusi mengangkat tema “Transformasi Digital: Kemajuan Ekonomi Kreatif dan Pertumbuhan Ekonomi Umat”. Narasumber yang hadir yakni Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo-SP) Sulsel Sultan Rakib serta Kepala Balai Besar Pengembangan SDM dan Penelitian Komunikasi dan Informatika Makassar Baso Saleh.
Forum tersebut membahas peluang pengembangan ekonomi kreatif melalui pemanfaatan teknologi digital. Terlebih, HIPMI Sulsel telah menjalin kerja sama dengan Balai Komdigi untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar mampu melakukan scale-up usaha.
Baca juga: Pemprov Sulsel Raih Predikat TP2DD Terbaik se-Sulawesi 2025, Bukti Sukses Transformasi Digital
Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Sulsel, Irma Trisnawati Anwar, berharap kegiatan ini dapat memberi manfaat bagi generasi muda yang mulai merintis usaha. Terutama bagi mahasiswa dan pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif.
"Acara ini bisa memberikan kontribusi khususnya kaum muda atau mahasiswa yang memiliki usaha di bidang ekonomi kreatif sehingga bisa mengikuti perkembangan di era komunikasi dan informasi yang begitu pesat," ujarnya.
Ia juga mendorong pengusaha muda memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Menurutnya, sinergi tersebut dapat membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi Sulsel.
"Saya berharap teman-teman bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sehingga dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi," tambahnya.
Baca juga: Pemkot Makassar Raih Penghargaan 10 Pemda Terbaik dalam Transformasi Digital Nasional
Sementara itu, Sultan Rakib menegaskan transformasi digital tidak hanya soal peningkatan keterampilan teknologi. Menurutnya, literasi digital juga harus mencakup aspek keamanan, budaya, dan etika digital.
"Jangan fokus saja pada peningkatan digital skill, tetapi juga harus memperhatikan tiga pilar lainnya dalam literasi digital," imbuhnya.
Ia menjelaskan terdapat empat pilar penting dalam literasi digital yakni digital skill, digital safety, digital culture, dan digital ethics. Keempat aspek ini dinilai penting agar pemanfaatan teknologi berjalan secara sehat dan produktif.
Sultan Rakib juga mengapresiasi program Digital Talent Scholarship dari Komdigi yang memberikan pelatihan digital bagi pelajar, mahasiswa, dan pelaku UMKM. Program tersebut mencakup berbagai kompetensi mulai dari digital marketing hingga pengembangan bisnis berbasis teknologi.
Baca juga: Pemprov Sulsel Siapkan 11 Jurus Kendalikan Inflasi dan Percepat Digitalisasi Jelang HBKN 2026
"Di situ terdapat silabus khusus bagi mahasiswa, pelajar, dan pelaku UMKM untuk belajar digital marketing hingga pengembangan usaha digital," ujarnya.
Ia menilai pelaku usaha yang mewarisi bisnis keluarga memiliki peluang besar melakukan transformasi digital. Digitalisasi dapat diterapkan pada transaksi maupun pemasaran agar usaha lebih adaptif dengan perkembangan zaman.
Selain itu, Sultan Rakib mengingatkan generasi muda agar mewaspadai dampak negatif ruang digital seperti judi online dan pinjaman online ilegal. Fenomena tersebut dinilai dapat merusak stabilitas ekonomi pelaku usaha muda.
"Sehebat-hebatnya bermain judi, yang akan menang itu bandar. Biasanya ketika kalah di judol akan berurusan dengan pinjol," katanya.
Baca juga: Wagub Sulsel Gandeng Puteri Indonesia Sulsel II 2026, Perkuat Pemberdayaan UMKM Perempuan
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur keuntungan instan di dunia digital. Menurutnya, kesuksesan usaha tetap membutuhkan kerja keras dan proses.
"Jangan percaya bisa mendapatkan keuntungan besar tanpa effort yang tinggi," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Baso Saleh menilai tema transformasi digital sangat relevan dengan momentum Ramadan. Ia menilai bulan suci menjadi waktu yang tepat untuk melakukan perubahan menuju hal yang lebih baik.
"Ramadan mengajarkan disiplin dan perubahan diri ke arah yang lebih baik, termasuk dalam konteks transformasi digital," tuturnya.
Baca juga: Munafri Ajak Mahasiswa Jadi Wirausahawan, Pemkot Makassar Alokasikan 50% Anggaran untuk UMKM
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat menjalankan usaha. Pelaku bisnis kini dapat memanfaatkan marketplace dan media sosial untuk memasarkan produk tanpa harus memiliki toko fisik.
"Sekarang kita bisa berjualan dari rumah dan mempromosikan produk melalui media sosial atau marketplace," jelasnya.
Digitalisasi menjadi penting karena struktur ekonomi Sulsel sangat dipengaruhi aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Data ekonomi menunjukkan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 52,38 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel.
Sementara investasi berkontribusi sekitar 38,96 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 10,76 persen. Kondisi ini menunjukkan penguatan UMKM memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca juga: Jadi Barometer UMKM Indonesia Timur, PLUT dan Loka Modal Resmi Diluncurkan di Sulsel
Sulsel sendiri memiliki sekitar 1,8 juta pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian. Digitalisasi juga semakin terlihat melalui penggunaan sistem pembayaran elektronik.
Berdasarkan data Bank Indonesia, terdapat sekitar 1,31 juta pengguna QRIS di Sulsel. Sebanyak 76,8 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Jumlah merchant QRIS di provinsi ini mencapai sekitar 1,3 juta dan menempatkan Sulsel pada posisi ketujuh nasional. Sepanjang 2025, volume transaksi QRIS tercatat mencapai 170,5 juta transaksi dengan pertumbuhan 116,56 persen.
Baca juga: Disnakertrans dan TP-PKK Sulsel Kolaborasi Gelar Pelatihan Ecoprint untuk UMKM
Pemprov Sulsel juga mendorong digitalisasi melalui platform e-purchasing BajuBodo Marketplace. Platform tersebut dirancang untuk membantu UMKM lokal masuk dalam sistem pengadaan pemerintah.
Saat ini terdapat 33.709 produk terdaftar dalam platform tersebut. Sekitar 85 persen merupakan produk dalam negeri dari 2.238 penyedia yang sebagian besar merupakan UMKM lokal.
Total transaksi melalui platform tersebut telah mencapai Rp211,7 miliar. Nilai tersebut menempatkan Sulsel pada posisi ketiga nasional dalam transaksi e-purchasing pemerintah berbasis UMKM.
Dengan dukungan digitalisasi, sektor ekonomi kreatif Sulsel seperti kuliner, fesyen, kriya, hingga konten digital diproyeksikan terus berkembang. Posisi Makassar sebagai pusat ekonomi Indonesia Timur juga menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekosistem kreatif di daerah ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Pemprov Sulsel