SULSEL - Permintaan emas yang tinggi di Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Wajo dan Sidenreng Rappang (Sidrap) ternyata ikut mendorong lonjakan harga logam mulia dan memberi tekanan lebih pada inflasi. Data statistik menunjukkan masyarakat di kedua daerah ini punya kecenderungan kuat menyimpan emas sebagai aset penting ekonomi rumah tangga.
Menurut Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan (BPS Sulsel), Wajo mencatat persentase rumah tangga dengan emas minimal 10 gram tertinggi di Sulsel pada 2025. Sidrap berada di urutan kedua setelah Wajo, menandakan dua wilayah ini memiliki budaya investasi emas yang cukup kuat.
Permintaan kuat dari wilayah yang rajin membeli emas turut berkontribusi pada kenaikan harga logam mulia di pasar nasional. Harga emas terus bergerak ke level lebih tinggi sepanjang 2025-2026 seiring minat masyarakat yang besar sebagai bentuk tabungan dan lindung nilai.
Baca juga: Terjerat Utang Akibat Judi Online, Pria di Bone Jambret Kalung Emas Pemotor Wanita
Bahkan, data nasional menunjukkan emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Indonesia pada 2025. BPS mencatat emas perhiasan memberi andil 0,79 persen terhadap inflasi tahunan pada tahun tersebut, menjadikannya komoditas yang dominan dalam pembentukan harga umum.
Tingginya kontribusi emas terhadap laju inflasi tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tetapi menjadi tren berkelanjutan selama beberapa bulan terakhir. Beberapa laporan mencatat emas perhiasan telah menjadi pendorong inflasi selama lebih dari dua tahun berturut-turut.
Baca juga: Pria di Bone Bobol Rumah Warga, Gasak Rp720 Juta dan Emas dari Brankas untuk Bayar Pinjol
Fenomena ini terjadi di tengah tren global harga emas yang masih kuat, yang pada beberapa periode mencapai rekor tinggi di pasar lokal maupun internasional. Kenaikan harga emas mendorong minat beli masyarakat di daerah dengan tingkat kepemilikan emas tinggi seperti Wajo dan Sidrap.
Namun tingginya permintaan juga menimbulkan implikasi pada daya beli konsumen dan pembentukan harga barang konsumsi secara lebih luas. Situasi ini menunjukkan bahwa pilihan investasi masyarakat terutama dalam bentuk emas tidak hanya mencerminkan strategi keuangan pribadi, tetapi juga berdampak pada dinamika ekonomi makro.
Secara keseluruhan, perilaku masyarakat yang gemar menyimpan logam mulia di tengah kondisi harga yang terus meningkat mempertegas posisi emas sebagai instrumen favorit investasi dan penyimpan nilai. Tren ini diperkirakan terus berlanjut seiring dengan fluktuasi harga global dan domestik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS Sulsel