SULSEL - Pertumbuhan ekonomi yang solid mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan mempercepat transformasi berbasis hilirisasi dan investasi berkelanjutan. Komitmen itu ditegaskan dalam Dedicated Team Meeting Forum Pinisi Sultan 2026 bersama Bank Indonesia (BI).
Forum tersebut digelar di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang strategis menyatukan langkah pemerintah, regulator, dan investor.
Sekretaris Daerah (Sekda) Sulsel, Jufri Rahman, mengungkapkan capaian ekonomi 2025 menunjukkan tren positif. Pertumbuhan mencapai 5,43 persen dengan PDRB per kapita Rp78,75 juta dan inflasi terjaga di angka 2,84 persen.
"Namun, kita tidak boleh berpuas diri. Tantangan global dan target Indonesia Emas 2045 menuntut transformasi ekonomi yang lebih fundamental," katanya.
Baca juga: Sulsel Bidik Investasi China, Jufri Rahman Bahas Ekspor dan Hilirisasi
Menurutnya, transformasi diarahkan pada percepatan hilirisasi, penguatan investasi hijau, dan optimalisasi Forum Pinisi Sultan sebagai solusi hambatan investasi. Langkah ini dinilai krusial untuk menggenjot nilai tambah ekonomi daerah.
Jufri menekankan Sulsel memiliki potensi besar dari sektor unggulan seperti nikel, perikanan, hingga perkebunan. Komoditas seperti rumput laut, kakao, kopi, dan kelapa menjadi kekuatan utama yang perlu didorong ke tahap hilirisasi.
"Hilirisasi menjadi agenda strategis karena arah kebijakan pemerintah pusat sangat jelas," imbuhnya.
Di sektor perikanan, Sulsel tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar nasional dengan produksi 4,01 juta ton. Selain itu, kontribusi rajungan mencapai 41,97 persen dan produksi udang menyentuh 74 ribu ton.
Baca juga: Dorong Hilirisasi Pertanian, Gubernur Sulsel Hadiri Rakor Nasional di Jakarta
Sementara di sektor investasi, realisasi tahun 2025 mencapai Rp19,544 triliun atau tumbuh 39,25 persen. Angka ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Sulsel.
"Data menunjukkan tren yang menuntut kewaspadaan dan respons kebijakan yang adaptif," ujar Jufri.
Meski demikian, tekanan ekspor menjadi perhatian serius setelah mengalami penurunan dari 2,217 miliar dolar AS pada 2023 menjadi 1,583 miliar dolar AS pada 2025. Ketergantungan pada komoditas mentah seperti nikel dinilai perlu segera diatasi melalui hilirisasi.
Jufri menegaskan, Sulsel harus bertransformasi dari sekadar penyuplai bahan mentah menjadi pusat industri pengolahan. Upaya ini diyakini mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah ekonomi.
"Melalui momentum ini, saya mengajak kita semua menyelaraskan langkah," tuturnya.
Ia juga memastikan pemerintah akan terus mendorong kemudahan perizinan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dukungan lintas sektor diharapkan mempercepat realisasi proyek strategis di daerah.
"Mari kita jadikan komoditas unggulan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru," ucapnya.
Forum ini turut dihadiri berbagai pemangku kepentingan mulai dari DPRD, kementerian, hingga investor. Sinergi tersebut diharapkan melahirkan kebijakan konkret untuk memperkuat posisi Sulsel sebagai motor ekonomi baru nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Pemprov Sulsel