SULSEL - Hampir 1.000 aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan menuntaskan hafalan Juz 30 dalam suasana bak pesantren kilat di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Program ini menjadi warna berbeda dalam Ramadhan Leadership Camp (RLC) yang digelar 22-28 Februari 2026.
Setiap usai salat fardhu, para peserta duduk melingkar di masjid untuk murojaah dan menyetorkan hafalan. Proses itu dipantau pendamping dan evaluator yang mencatat progres harian masing-masing kelompok.
Evaluator Kelompok 5 dari BPSDM Sulsel, Abdul Muis, menyebut antusiasme peserta melampaui ekspektasi. Bahkan, ada ASN yang tak hanya menyelesaikan Juz 30, tetapi menambah hafalan hingga Juz 28.
"Alhamdulillah sampai hari ini teman-teman sangat semangat melaksanakan tambahan hafalan. Bahkan ada satu peserta yang melampaui target, tidak hanya Juz 30 tetapi sudah masuk ke Juz 28," ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap waktu salat selalu ada setoran baru dari peserta. Hafalan dimulai dari surah-surah pendek hingga bacaan yang lebih panjang.
"Setiap waktu salat selalu ada setoran hafalan baru, mulai dari Surah An-Naba sampai tiga surah penutup," kata Abdul Muis.
Program ini merupakan inisiatif Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, untuk membangun karakter ASN berbasis nilai keimanan. Pendekatan spiritual dipadukan dengan penguatan integritas dan kepemimpinan selama Ramadan.
Kepala Bidang P2P Dinkes Sulsel, Yusri Yunus, mengaku kegiatan ini menghidupkan kembali tradisi religius yang lama tak dijalani. Ia menyebut program ini memberi energi baru dalam menjaga kualitas ibadah.
"Ini mengembalikan imtaq kami dan menjadi bagian dari misi Gubernur untuk menciptakan SDM yang berakhlak. Dari sisi manajemen hafalan juga memberi semangat hidup agar lebih menjaga kualitas ibadah," ucapnya.
Kepala SMKN 1 Parepare, Mushiruddin, awalnya mengira menghafal surah panjang akan terasa berat. Namun ia merasakan pola pengulangan rutin justru membuat hafalan semakin mudah melekat.
"Awalnya ada anggapan menghafal itu sulit. Tapi setelah dicoba, ternyata semakin sering dilakukan semakin terasa mudah. Kuncinya teliti dan telaten," tuturnya.
Pengalaman serupa dirasakan Elvira Jayanti, Kepala UPTD Balai Distribusi Perdagangan Disperindag Sulsel. Di awal kegiatan ia hanya mampu menyetorkan 16 surah, lalu meningkat menjadi 20 surah setelah didorong mencoba kembali.
Di akhir program, ia berhasil menambah lima surah meski sempat kesulitan pada satu bacaan panjang. Metode mengulang satu ayat hingga sepuluh kali dan memecah ayat menjadi bagian kecil membantunya menuntaskan target.
"Alhamdulillah akhirnya bisa hafal dan saya sampai sujud syukur. Teknik itu jauh lebih efektif dari cara yang saya gunakan sebelumnya," kata Elvira.
Baginya, kegiatan ini menjadi momentum menghidupkan kembali hafalan lama yang sempat memudar. Elvira berharap kedepannya ia tetap konsisten membaca Al-Qur’an serta menambah hafalan di masa mendatang.
Ramadan Leadership Camp tak sekadar forum kepemimpinan, tetapi ruang pembinaan karakter ASN. Pemerintah berharap penguatan integritas spiritual ini berdampak pada etos kerja dan kualitas pelayanan publik yang lebih berakhlak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Pemprov Sulsel