SULSEL - Pasar Tempe di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, telah mengalami evolusi signifikan dari sekadar pasar tradisional menjadi simbol inovasi infrastruktur pasar rakyat. Transformasi ini tidak hanya mengubah wajah fisik pasar, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Perubahan besar pasar ini berawal dari sebuah tragedi yang mengguncang perekonomian Kabupaten Wajo. Pada Agustus 2019 lalu, Pasar Tempe Sengkang hangus terbakar dan meninggalkan dampak besar bagi aktivitas perdagangan kebutuhan pokok masyarakat setempat.
Sejarah dan Peran Pasar Tempe bagi Masyarakat
Pasar Tempe merupakan pasar tradisional utama di Kota Sengkang yang telah menjadi sentra perdagangan kebutuhan pokok sejak puluhan tahun silam. Pasar ini menjadi tempat berkumpulnya pedagang lokal, pembeli, pedagang sayur, daging, hingga komoditas khas lokal yang menjadi bagian dari ekonomi masyarakat sehari-hari.
Sejak kecil, banyak warga Wajo mengenal Pasar Tempe sebagai lokasi utama transaksi ekonomi, bazar mingguan, dan pusat interaksi sosial masyarakat. Pedagang dari wilayah lain juga rutin berdagang di pasar ini, menjadikannya magnet perekonomian di kota kecil Sengkang.
Baca juga: Sekda Jufri Rahman Hadiri Dzikir Bersama Peringatan 65 Tahun Bank Sulselbar
Revitalisasi: Titik Awal Kebangkitan
Transformasi besar Pasar Tempe dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 12 April 2021. Saat itu, pemerintah pusat dan daerah bersama pihak terkait meresmikan pembangunan ulang pasar sebagai bangunan modern yang dirancang untuk menjadi percontohan nasional.
Bupati Wajo Amran Mahmud pada kesempatan tersebut menegaskan bahwa pasar ini bukan sekadar simbol kebangkitan setelah kebakaran, tetapi juga momentum memperkuat basis ekonomi rakyat. Proyek dibangun di atas lahan seluas 8.642 m² menggunakan APBN melalui skema Dana Alokasi Khusus (DAK) mencapai Rp 45,37 miliar.
Konsep Bangunan Hijau: Menuju Pasar Modern Berkelanjutan
Salah satu hal yang membedakan revamp Pasar Tempe dengan pasar tradisional lainnya di Indonesia adalah konsep green building (bangunan hijau). Konsep ini menekankan pada desain yang ramah lingkungan, penggunaan ruang yang efisien, serta kebersihan dan kenyamanan bagi pedagang dan pengunjung.
Bangunan hijau ini menjadikan Pasar Tempe salah satu pionir di kawasan Indonesia Timur yang menggabungkan fungsi tradisional pasar dengan standar modern berkelanjutan. Selain itu, fasilitas pasar juga dirancang untuk memenuhi aspek keamanan, kesehatan, dan kemudahan akses bagi semua kalangan masyarakat.
Baca juga: Makassar Bersiap Jadi Tuan Rumah Puncak HKG PKK ke-54 Tahun 2026
Pembangunan dan Penyerahan ke Pemerintah Daerah
Pembangunan Pasar Tempe dilaksanakan melalui skema Multi Years Contract (kontrak tahun jamak) yang dimulai pada 2020 dan rampung dalam beberapa tahap hingga 2023. Skema ini memungkinkan proyek pembangunan berkelanjutan meski menghadapi berbagai tantangan teknis dan administratif.
Pada bulan September 2023, proyek yang menelan biaya sekitar Rp45,37 miliar ini secara resmi diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten Wajo. Serah terima ini menandai tonggak penting dalam pengelolaan pasar sebagai fasilitas publik berstandar modern.
Peresmian oleh Presiden Joko Widodo
Puncak dari proses transformasi ini terjadi pada 5 Juli 2024 ketika Presiden RI Joko Widodo meresmikan selesainya pembangunan Pasar Tempe Sengkang. Hadir bersama Presiden sejumlah pejabat negara yang menunjukkan betapa pentingnya pasar ini bagi agenda pembangunan nasional.
Dalam pernyataannya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menekankan bahwa revitalisasi pasar rakyat bertujuan untuk memastikan distribusi kebutuhan pokok berjalan lancar serta merangsang pertumbuhan UMKM lokal. Peran pasar ini pun diharapkan meluas menuju pemerataan ekonomi hingga pelosok desa.
"Diharapkan, infrastruktur pasar yang berkualitas dapat dirasakan langsung manfaatnya, terutama menjamin distribusi bahan pokok dan turut menggerakan sektor riil atau UMKM yang merata hingga pelosok desa di seluruh Indonesia," tuturnya.
Baca juga: Viral Event Baku Tumbuk di Parepare, KONI Soroti Risiko dan Legalitas Pertandingan
Wajah Baru Pasar Tempe dalam Aktivitas Sehari-hari
Kini setelah direvitalisasi, Pasar Tempe tampil dengan fasilitas dua lantai, unit kios dan los yang tertata rapi, serta area parkir yang luas. Aspek kebersihan, sanitasi, pencahayaan, dan ventilasi juga menjadi fokus, sesuai standar bangunan hijau yang diterapkan.
Dilansir dari ANTARA, Rabu (14/1/2026), sekitar 60% dari total 940 unit kios dan los telah ditempati oleh pedagang lokal yang kembali berjualan secara bertahap. Hal ini menandakan pemulihan ekonomi yang menggembirakan, meskipun masih banyak ruang kosong untuk diisi pedagang lain di kemudian hari.
Saat ini, Pasar Tempe kembali berfungsi penuh sebagai pusat distribusi sembako, bahan kebutuhan pokok, dan tempat transaksi ekonomi sehari-hari warga Sengkang. Aktivitas jual-beli yang hidup menunjukkan bahwa pasar tradisional tetap relevan meski berada dalam era modernisasi.
Setiap harinya, pasar ini ramai dikunjungi oleh warga Sengkang dan sekitarnya, mulai pagi hari hingga sore ketika pedagang dan pembeli berinteraksi aktif. Aktivitas harian mencapai puncaknya di pagi hari ketika pasokan sembako, sayur-mayur, dan bahan pokok datang dari distributor maupun petani lokal untuk dijual kembali kepada konsumen.
Baca juga: Ruas Jalan Impa-Impa–Anabanua di Wajo Diperbaiki, Ditarget Rampung Sebelum Lebaran
Dampak Sosial-Ekonomi dan Harapan Masa Depan
Transformasi Pasar Tempe tidak hanya berdampak pada estetika bangunan tetapi juga menguatkan aktivitas ekonomi lokal yang sempat terganggu pascakebakaran. Pasar ini berhasil menghidupkan kembali jaringan perdagangan yang sempat terputus, serta memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk berkembang.
Salah seorang pedagang ayam potong, Indo Upe mengatakan, pasar tetap menjadi tempat favorit warga untuk belanja karena harga yang relatif lebih murah dibandingkan supermarket. Ia menyebutkan bahwa harga komoditas seperti cabai dan ayam potong seringkali jadi sorotan pembeli karena fluktuasi pasar, namun tingkat kunjungan masyarakat tetap tinggi setiap harinya.
"Alhamdulillah tetap ramai, tapi tidak sepertimi dulu (ramai) sebelum kebakaran," ujarnya.
Dengan konsep pasar hijau dan fasilitas modern yang nyaman, Pasar Tempe kini menjadi salah satu pasar percontohan di Indonesia yang menggabungkan tradisi pasar rakyat dengan standar bangunan berkelanjutan. Ke depan, pasar ini berpotensi menjadi model untuk revitalisasi pasar tradisional di daerah lain, terutama di kawasan timur Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan