Kisah Agam Rinjani, Dari Tumpukan Sampah Makassar hingga Jadi Pahlawan Bagi Brasil Lewat Aksi Heroik
SULSEL - Abdul Haris Agam atau yang lebih dikenal dengan nama Agam Rinjani mendadak jadi perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir. Tidak hanya di tanah air, Agam bahkan viral sampai Brasil setelah aksi heroiknya terekam video berhasil mengevakuasi jasad pendaki warga negara asing (WNA) bernama Juliana Marins yang tewas terjatuh di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Agam, seorang porter asal Makassar, bukan orang asing di jalur pendakian Rinjani. Ia telah menjalani profesi ini selama lebih dari 3 tahun, mengenal jalur, titik air, dan medan gunung layaknya halaman rumah sendiri.
Lebih dari itu, Agam sudah lebih 10 tahun menetap di Sembalun, salah satu kawasan pintu masuk utama menuju Gunung Rinjani. Disana ia tidak hanya memandu pendaki, tapi juga sering terlibat langsung dalam berbagai operasi penyelamatan.
Namun, jauh sebelum jadi pemandu di jalur ekstrem, Agam tumbuh dari kehidupan yang keras di Makassar. Lahir dan besar di Kota Daeng, Agam pernah merasakan getirnya hidup dengan menjadi sopir truk sampah semasa duduk dibangku SD.
Agam berjuang di balik kemudi truk dan di antara tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang hingga ia menamatkan sekolahnya. Bahkan, ia mengorbankan waktu belajar dan bermain hanya demi membantu ekonomi orang tuanya.
Tak banyak anak seusianya yang rela berkeringat di antara tumpukan sampah. Namun, Agam menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran tentang kerja keras dan bertahan dalam keterbatasan.
Meski sempat jatuh bangun, semangatnya tak pernah luntur. Filosofinya sederhana, yaitu berbuat baik tanpa pamrih, karena ia pernah merasakan kebaikan orang lain saat tak punya apa-apa.
Baca juga: Modus Tawarkan Penumpang Kamar Gratis, ABK Kapal Feri Rute Siwa-Tobaku Kepergok Cabuli Gadis ABG
Setelah menamatkan sekolah, alumni SMA Cendrawasih itu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Di kampus merah tersebut, Agam mengambil jurusan antropologi, bidang ilmu yang kerap bersinggungan dengan penelitian lapangan dan eksplorasi budaya.
Selain sibuk kuliah, ia bergabung dalam Korps Pecinta Alam (Korpala) yang kemudian menjadi rumah keduanya. Di organisasi itu, ia banyak mengasah kemampuan survival dan teknik evakuasi di medan ekstrem.
Pengalaman panjang sebagai korpala membuatnya terbiasa menghadapi situasi genting. Takdir yang membawanya menuju ketenaran akhirnya datang ketika kabar pendaki asing yang tewas itu sampai ke telinganya.
Singkat cerita, Agam pun terlibat langsung dalam proses evakuasi jasad korban yang berlangsung dramatis dan penuh risiko.
Dalam podcast Denny Sumargo, Agam menceritakan, saat mengetahui kabar tersebut, ia sebenarnya tengah berada di Jakarta, namun ia memutuskan kembali ke Lombok atas dasar kemanusiaan.
“Jadi, posisi saya di Jakarta. Saya lihat di Instagram, ada yang jatuh. Saya periksa, saat saya melihat videonya, oh saya tahu tempat dia jatuh," kata Agam.
Agam mengaku mengetahui tempat korban pertama kali jatuh. Tapi saat itu kondisi korban masih hidup, sehingga dirinya tidak langsung kembali ke Lombok karena masih ada agenda lain.
“Saya melihatnya di video. Kemudian tim besar naik dari Basarnas dan lainnya. Mereka berangkat dari Sembalun,” paparnya.
Agam kemudian mendiskusikan hal tersebut dengan rekan sesama survival, Mas Tio. Menurut Tio, korban sudah ditemukan dan dievakuasi ke puskesmas.
Namun Agam merasa ragu, dia pun kembali menanyakan kebenaran kabar tersebut kepada Tio.
"Mas, apakah mereka sudah menemukannya? Saya berkata "Bagaimana mereka bisa menemukannya?" Oh benar, ada videonya, ya?” ujar Agam menirukan perbicangannya dengan Tio.
Mendengar jawaban Tio, Agam tidak serta merta langsung percaya. Ia tetap merasa penasaran dan mempunyai firasat buruk tentang itu.
Agam akhirnya menghubungi rekan-rekannya yang berada Rinjani menggunakan radio untuk menanyakan kabar proses penyelamatan disana.
"Hei, apa informasi terbaru?" "Ya, tim SAR sudah datang, tapi dia belum ditemukan." "Hah? Tapi beritanya..." "Iya, Bang, dia belum ditemukan, serius." "Berita mengatakan sudah" "Tidak, orang-orang itu masih menjalankan rencana C di sana," papar Agam menjelaskan percakapannya dengan rekan di Rinjani.
Baca juga: Kejuaraan Domino Nasional Digelar Perdana di Sulsel, Angkat Tradisi Budaya dan Kearifan Lokal
Agam lantas mengajak Tio menuju Rinjani dan segera mengatur rencana penyelamatan. Ia kemudian membuka laptop dan mempelajari titik-titik kemungkinan letak posisi korban terjatuh.
“Mas, ayo kita ke sana." Saya membuka laptop saya. Mempelajarinya. "Oh, kemungkinannya..." Bintik-bintik... titiknya. Orang ini,” ujarnya.
Sayangnya, keinginan Agam untuk segera kembali Lombok tidak diiyakan Tio lantaran masih ada agenda lain di Bogor. Alhasil, iapun ikut rombongan ke Bogor.
“Namun Mas berkata "Jangan pulang dulu." Katanya "Kita ke Bogor dulu, besok ada acara." "Hah Baiklah,” lanjutnya.
Sambil memantau perkembangan situasi di Rinjani, Agam pun berangkat ke Bogor menghadiri acara tersebut.
Memasuki hari kedua, Agam mendapat kabar bahwa korban masih belum ditemukan. Dia pun merasa tidak bisa tinggal diam lagi, sehingga memutuskan segera membeli tiket pesawat tapi lagi-lagi keinginannya kembali ke Rinjani tidak bisa terealisasi lantaran tidak ada penerbangan ke Lombok pada hari itu.
Pada akhirnya, Agam mendapatkan tiket keesokan harinya dan tiba di Lombok pada hari ketiga. Sesampainya disana ia langsung berkoordinasi dengan tim penyelamat.
Baca juga: Crazy Rich Gowa DPO Kasus Korupsi Irigasi Rp10,2 M di Nabire Ditangkap di Makassar
Dengan sigap, ia mengoordinasikan evakuasi bersama tim Basarnas dan Rescue, bahkan Agam menjadi orang pertama yang menawarkan diri untuk turun ke jurang dimana jasad Juliana tergeletak.
Tidak hanya itu, ia menambahkan 200 meter tali milik pribadinya agar jenazah dapat diangkat dari kedalaman 590 meter. Proses evakuasi berlangsung selama 9 jam, di bawah hujan batu dan medan longsor yang berbahaya.
Agam menyebut, Juliana diduga meninggal sejak hari pertama jatuh, dengan luka parah di kaki dan bagian kepala akibat terhempas di jurang curam. Namun ia dan tim tetap membawa jasad korban dengan hati-hati dan penuh rasa hormat.
Momen heroik itu terekam video hingga akhirnya viral sampai ke Brasil.
Warga Brasil yang tersentuh kemudian menggalang donasi melalui platform penggalangan dana populer di Brasil, VOAA. Dana yang terkumpul sebesar Rp1,3 miliar yang ditujukan untuk membeli perlengkapan penyelamatan dan mendukung program penanaman pohon demi kelestarian Rinjani.
Belakangan, donasi tersebut dibatalkan karena alasan biaya administrasi, tetapi kemudian dikembalikan kepada para donator untuk menentukan keputusan akhir terkait penyalurannya.
Di tengah sorotan, Agam tetap merendah, ia menyebut semua itu bagian dari tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa kerja tim SAR tidak lambat seperti yang dikira, hanya saja medan begitu ekstrem dan waktu sangat sempit.
Lebih lanjut, Agam menyayangkan belum adanya helikopter khusus evakuasi dan berharap ada alat rescue permanen di tiap pos gunung. Baginya, keselamatan pendaki bukan hal sepele, apalagi jika hanya bersandar pada keberuntungan.
Kini, sosok Agam Rinjani tak hanya dikenal di kalangan pendaki lokal, tapi juga menginspirasi banyak orang di luar negeri. Dari tumpukan sampah Makassar hingga puncak Rinjani, ia menorehkan cerita bahwa asal usul bukan halangan untuk berbuat sesuatu yang besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Denny Sumargo