SULSEL - Pesantren As'adiyah di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, menjadi objek kajian menarik bagi peneliti BRIN karena dianggap sebagai pesantren tertua di Indonesia Timur. Kajian ini menyoroti arsitektur tradisional Bugis yang masih dipertahankan di salah satu kampusnya.
Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR KKP) BRIN, Nurman Kholis, menyebut riset singkat pada Juli 2023 membuka peluang penelitian lanjutan. Menurutnya, pendekatan lintas disiplin sangat dibutuhkan untuk memahami nilai sejarah arsitektur pesantren.
"Dari empat lokasi kampus As'adiyah, kami memilih kampus tiga sebagai objek utama karena masih mempertahankan bangunan bercorak tradisional Bugis. Asrama santrinya berbentuk rumah adat Bugis, itu yang membuatnya unik," ujar Nurman dalam webinar Bincang Khazanah, Rabu (17/9/2025).
Dia menjelaskan penelitian berlangsung hanya lima hari, termasuk perjalanan dari Jakarta ke Wajo. Dengan waktu efektif tiga hari, tim hanya berfokus pada aspek morfologi arsitektur.
Baca juga: Koramil 1406-05/Majauleng Gelar Patroli Gabungan demi Jaga Kamtibmas di Wajo
Hasil riset itu telah dipublikasikan di Jurnal Istanipop Arsitektur UIN Malang pada Juni 2025. Nurman menilai, potensi kajian lanjutan sangat besar karena banyak peneliti Sulawesi Selatan yang akrab dengan tradisi Bugis-Makassar.
"Di kampus itu ada toleransi antara arsitektur tradisional dan modern. Bahkan di depan Masjid As’adiyah terdapat kantor Aisyiyah, menandakan kedekatan dengan Muhammadiyah," paparnya.
Lebih lanjut, Nurman juga menyoroti keberadaan simbol-simbol budaya yang menghiasi ruang kelas hingga area publik pesantren. Kata-kata motivasi ditulis dalam berbagai bahasa dan aksara, mulai dari Arab, Bugis, Indonesia, Inggris, hingga Lontara.
"Paradigma berpikir global hingga bertindak lokal sangat tampak di sini," jelasnya.
Baca juga: Pemkot Makassar Raih Penghargaan 10 Pemda Terbaik dalam Transformasi Digital Nasional
Menurut Nurman, eksistensi As'Adiyah tetap kuat di era digital dengan memiliki kanal YouTube dan radio sendiri. Inilah yang membuatnya mampu menjaga tradisi sambil berdialog dengan modernitas.
Pesantren As'adiyah juga dikenal sebagai pusat lahirnya tokoh nasional. Di antaranya seperti Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama RI Prof KH Nasaruddin Umar, serta mantan Dirjen Bimas Islam Prof KH Khaeroni Amin.
Nurman menegaskan bahwa riset tentang arsitektur tradisional di kampus 3 As'adiyah baru menjadi titik pijak awal. Penelitian lanjutan sangat terbuka untuk dilakukan.
"Ke depan, riset lanjutan sangat mungkin dikembangkan, baik dari sisi arsitektur maupun nilai kultural yang melekat," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN