Jangan Sembarangan! Begini Cara Mencuci Sarung Sutera Bugis agar Keindahan dan Nilai Sakralnya Tetap Terjaga
SULSEL - Bagaimana cara mencuci sarung sutera Bugis? Kain tradisional khas Sulawesi Selatan ini memang sudah terkenal hingga mancanegara.
Motifnya yang khas, bahannya yang lembut, serta proses pembuatannya yang rumit, hanya dapat dilakukan oleh masyarakat Bugis.
Merawat sarung sutera Bugis memang tidaklah mudah, membutuhkan ketelatenan esktra dibandingkan kain biasa.
Dengan teknik pencucian yang tepat, sarung sutera Bugis kesayangan tidak hanya akan awet secara fisik, tetapi juga tetap memancarkan pesona warna yang mewah dan elegan setiap kali dikenakan pada momen-momen spesial.
Sebelum mengetahui cara mencuci sarung sutra Bugis khas Sulawesi Selatan, alangkah baiknya mengetahui sejarah dan proses pembuatannya.
Artikel di bawah ini mengulas secara singkat sejarah sarung sutra Bugis, beragam motif, serta cara merawatnya dengan mudah agar awet dan warna tidak pudar.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya di sini.
Sejarah Sarung Sutera Bugis
Bagi masyarakat Bugis, kain sarung sutra tak hanya berfungsi untuk menutup tubuh. Melainkan memiliki nilai historis tinggi dari nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan hingga saat ini.
Dahulu, kain sarung sutra Bugis ini dianggap sakral dan suci. Dipakai sebagai status simbol dan gengsi, dan hanya dipakai ketika ada upacara adat, acara tertentu, dan menyambut tamu-tamu penting.
Pada tahun 2016, sarung sutra Bugis atau Lippa Sabbe ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Bagi yang sudah punya sarung sutra Bugis atau berkeinginan untuk memiliki kain tradisional tersebut, Anda bisa dapatkan pusat kerajinan atau membelinya melalui platform belanja online.
Baca juga: 5 Spot Diving Terbaik di Sulawesi Selatan, Wajib Masuk Bucket List Tahun Ini
Dengan memilikinya sama seperti menjaga identitas bangsa, ikut melestarikan serta menjaga nilai kearifan lokal, serta mendukung mata pencaharian para pengrajin tenung Sengkang secara langsung.
Proses Pembuatan Sarung Sutera Bugis
Melansir dari Jurnal Universitas Negeri Makassar, kain sutera Bugis dianggap sebagai bahan sandang yang berfungsi sebagai kelengkapan upacara sakral.
Pada abad ke-15 tenun mulai berkembang di antara suku Bugis, bertepatan saat Islam masuk ke Sulawesi Selatan.
Lipa dalam bahasa Bugis berarti sarung dan Sabbe berarti sutera. Lippa Sabbe berarti sarung tenun yang terbuat dari kain sutera.
Membuat kain ini tidak mudah, butuh keterampian menenun. Bagi masyarakat Bugis memiliki keterampilan menenun adalah sebuah kewajiban yang nantinya diteruskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Pemkot Makassar Tata Kawasan Telkomas, 20 Lapak Direlokasi dan Dibongkar
Pusat kerajinan tenun di Sulawesi Selatan terletak di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo. Untuk produksi Lipa Sabbe sendiri masih menggunakan cara tradisional.
Yakni menggunakan alat tradisional ATMB atau Alat Tenun Bukan Mesin yang dikenal tennung walida atau tenun duduk.
Disebut demikian sebab proses menenun dilakukan dengan posisi duduk sambil meluruskan kedua kaki ke depan.
Ini dilakukan untuk menginjak sepasang pedal kayu yang terdapat di bagian bawah alat secara bergantian.
Motif Sarung Sutera Bugis
Corak warna Lipa Sabbe sekarang sangat beragam. Awal mulanya warna dasar hanya menggunakan warna hijau, kuning, putih, ungu, merah, merah mudah, serta biru.
Pada 2013 dibuat beragam warna dan penggunaannya pun tidak lagi disesuaikan dengan aturan yang berlaku, melainkan pada kesukaan dan kesesuaian dengan busana yang akan dikenakan.
5 Cara Mencuci Sarung Sutera Bugis
Setelah mengetahu sejarah Lipa Sabe, yakni sarung sutra Bugis kita semua jadi tahu bahwa kain tradisional tersebut dulunya dipakai sebagai tanda kehormatan yang sarat akan makna.
Proses pembuatannya pun tidak sembarang, harus punya keahlian khusus yang tak semua orang mampu melakukannya.
Baca juga: 5 Tempat Ziarah Umat Katolik di Sulawesi Selatan
Untuk itu, jangan sampai salah sedikit dalam mencuci, kecerobohan bisa membuat kain mengkerut atau warna jadi luntur.
1. Gunakan Pembersih Alami atau Sampo Bayi
Sutera adalah serta protein alami yang sangat sensitive terhadap zat kimian kerasa dalam deterjen biasa.
Biasanya untuk bahan sutera menggunakan buah lerak yang sudah jadi rahasia leluhur. Caranya, rendam buah lerak dalam air hangat hingga mengelaurkan busa alami.
Air lerak memiliki pH aman untuk warna alami sutera.
Jika sulit menemukan lerak, sampo bayi bisa dijadikan alternatif karena formulanya yang embut dan tidak mengandung pembersih yang korosif.
2. Jangan Rendam Terlalu Lama
Cukup rendam maksimal 10 menit saja. Merendam terlalu lama dapat merusak struktur kain an memicu lunturnya pewarna tradisional yang terdapat pada benang sutera.
3. Hindari Mengucek atau Memeras dengan Keras
Jika ada bagian yang kotor pada kain, cukup usap perlahan dengan jari. Jangan sekali-kali memeras sarung sutera dengan cara diplintir, akan merusak bentuk tenunan dan membuat kain menjadi kusut permanen.
4. Jemur di Tempat Teduh
Baca juga: Polemik Paskibraka Sulsel Memanas, Kesbangpol Tegaskan Tak Ada Pergantian Peserta
Jangan pernah menjemur sarung sutera di bawah terik matahari. Sinar UV yang kuat adalah musuh utama sutera.
Cukup angin-angin di tempat yang teduh atau di bawah kanopi yang sejuk dengan cara mengantungnya menggunakan pipa halus atau bambu agar tidak ada bekas lipatan tajam.
5. Tips Menyetrika
Gunakan suhu terendah (silk setting) dan laipisi bagian atas sarung dengan kain tipis saat menyetrika agar panas tidak langusng mengenai permukaan sutera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Detik.com, Boneterkini.id