SULSEL - Pernah mendengar Taka Bonerate? Taka Bonerate merupakan salah satu dari 7 Taman Nasional Laut yang ada di Indonesia. Lokasinya berada di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Taman nasional ini dikenal sebagai salah satu kawasan atol terbesar di dunia. Keindahan laut, pasir putih, pulau-pulau kecil, dan kehidupan bawah lautnya membuat siapa pun yang datang pasti terpukau.
Nama Taka Bonerate berasal dari bahasa Bugis yang berarti “hamparan karang di atas pasir”. Nama ini sangat cocok karena kawasan ini memang dipenuhi gugusan karang indah yang tersebar di lautan jernih.
Untuk menuju Taka Bonerate, perjalanan bisa dimulai dari Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan. Dari Makassar, wisatawan perlu menuju Pulau Selayar terlebih dahulu. Ada dua pilihan perjalanan, yaitu melalui jalur udara atau jalur darat dan laut.
Baca juga: 450 Mubaligh dan Imam di Makassar Ikut Bimbingan Keagamaan
Jika memilih jalur udara, perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara H. Aroeppala Selayar memakan waktu sekitar 35 sampai 45 menit.
Sementara itu, jika memilih jalur darat, perjalanan bisa ditempuh dengan bus menuju Pelabuhan Bira di Bulukumba selama kurang lebih 5 jam.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan kapal feri menuju Pelabuhan Pamatata di Kepulauan Selayar selama sekitar 2 jam. Dari pelabuhan, perjalanan darat dilanjutkan lagi menuju Kota Benteng selama kurang lebih 2 jam.
Setibanya di Pulau Selayar, wisatawan bisa datang ke kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Di sana, wisatawan bisa mencari informasi kapal menuju kawasan Taka Bonerate, sekaligus mengurus dan membayar Simaksi atau Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi.
Baca juga: 5 Tempat Ziarah Umat Katolik di Sulawesi Selatan
Saat ini, belum ada kapal reguler yang berangkat setiap hari menuju kawasan Taka Bonerate. Ada dua jalur yang biasanya digunakan. Pertama, melalui Pelabuhan Rauf Rahman Benteng dengan waktu tempuh sekitar 8 sampai 9 jam. Kedua, melalui perjalanan darat menuju Pelabuhan Pattumbukang selama sekitar 1 jam, lalu dilanjutkan menyeberang ke kawasan selama kurang lebih 5 jam.
Sambil menunggu jadwal keberangkatan, wisatawan juga bisa menikmati kuliner khas Pulau Selayar. Salah satu yang wajib dicoba adalah nasi santan dengan ikan bakar.
Rasa gurih nasi santan berpadu dengan ikan bakar segar, sabuk kelapa, dan cobek-cobek khas Selayar yang menggunakan belimbing wuluh. Rasanya sederhana, tetapi sangat menggugah selera.
Berikut beberapa pulau di kawasan Taka Bonerate yang wajib dikunjungi.
1. Pesona Pulau Jinato
Pulau Jinato memang belum sepopuler pulau lain di Taka Bonerate, tetapi keindahannya tidak kalah menarik. Pulau ini dihuni oleh masyarakat Bugis yang dikenal ramah terhadap wisatawan.
Di Pulau Jinato, wisatawan bisa menginap di homestay milik warga. Beberapa masyarakat juga sudah dilatih sebagai pemandu wisata melalui program Model Desa Konservasi atau MDK.
'Selain menikmati keramahan warga, wisatawan juga bisa melihat kehidupan masyarakat lokal, seperti proses pembuatan perahu, pembuatan minyak kelapa, dan berbagai aktivitas tradisional lainnya.
Pulau Jinato juga memiliki pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam yang indah. Hamparan pasir putih di Bunging Jinato menjadi salah satu daya tarik utamanya.
Untuk pecinta bawah laut, Pulau Jinato punya dua titik selam andalan, yaitu Jinato Wall Paradise dan Jinato The River. Di dekat Pos Jagawana, ada juga Taman Transplantasi Karang yang dikelola oleh masyarakat bersama Balai Taman Nasional Taka Bonerate.
Baca juga: Jadwal Lokasi Lengkap Samsat Keliling Kota Makassar, Sekaligus Syarat Bayar Pajak Kendaraan
2. Pulau Lantigiang yang Eksotis
Dari Pulau Jinato, wisatawan hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 20 menit untuk sampai ke Pulau Lantigiang. Pulau kecil tak berpenghuni ini berada di utara Pulau Jinato.
Pulau Lantigiang terkenal dengan pasir putihnya yang sangat halus dan air lautnya yang begitu jernih. Suasananya tenang, bersih, dan cocok untuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam tanpa keramaian.
Di pulau ini, wisatawan bisa berenang, snorkeling, menikmati matahari terbenam, hingga berkemah. Saat malam tiba, langit di Pulau Lantigiang terlihat indah dengan taburan bintang. Menjelang pagi, wisatawan juga bisa menikmati suasana matahari terbit yang menenangkan.
3. Budaya Lolo Bajo di Pulau Rajuni
Pulau Rajuni bukan hanya menarik karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan budayanya. Pulau ini pernah dikenal sebagai pusat kerajaan atau pemerintahan kawasan Taka Bonerate pada masa lalu.
Salah satu budaya yang masih terjaga di Pulau Rajuni adalah budaya Lolo Bajo. Masyarakat setempat memiliki tradisi unik, salah satunya dalam prosesi pernikahan.
Setelah lamaran diterima, masyarakat akan melakukan prosesi menaikkan bendera atau panji-panji keturunan Lolo Bajo yang disebut Ulla-ulla. Prosesi ini biasanya diiringi atraksi gendang, pencak silat, dan penggunaan bambu anyaman yang disebut Wala Suji.
Ulla-ulla berbentuk seperti bendera orang dengan kain berwarna kuning keemasan di bagian atasnya. Kain ini dipercaya oleh masyarakat Bajo sebagai kain yang turun langsung dari langit karena pada masa itu belum ada pembuat tenun sehalus kain tersebut.
Menurut cerita masyarakat, Ulla-ulla dibawa oleh salah satu anak Batara Guru, yang dipercaya sebagai manusia pertama di Sulawesi Selatan, lalu menetap di Pulau Rajuni.
Saat ini, Ulla-ulla terbagi menjadi dua bagian. Bendera berbentuk orang dipegang oleh bangsawan laki-laki yang tinggal di Rajuni Besar, sedangkan bendera kuning keemasan dipegang oleh bangsawan perempuan yang tinggal di Rajuni Kecil.
Sama seperti di Pulau Jinato, Pulau Rajuni juga sudah memiliki Model Desa Konservasi. Jadi, wisatawan tidak perlu khawatir soal penginapan karena tersedia beberapa homestay yang dikelola masyarakat lokal. Para pemilik homestay juga bisa menjadi pemandu selama wisatawan berada di sana.
Baca juga: Karst Maros-Pangkep, Bentang Alam Menara Kapur yang Jadi Ikon Sulawesi Selatan
4. Pulau Tinabo, Primadona Taka Bonerate
Pulau Tinabo adalah salah satu ikon utama Taman Nasional Taka Bonerate. Pulau ini sering disebut sebagai primadona karena keindahan alamnya yang luar biasa.
Pulau Tinabo hanya dihuni oleh para ranger atau jagawana Taman Nasional Taka Bonerate. Meski begitu, pulau ini sudah memiliki beberapa guest house untuk wisatawan. Ada juga area tenda bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berkemah di tepi pantai.
Saat pagi hari, wisatawan bisa menikmati pemandangan matahari terbit yang sangat indah. Salah satu atraksi menarik di Pulau Tinabo adalah melihat puluhan anak hiu jenis blacktip yang berenang bebas di pantai, tepat di depan guest house.
Wisatawan juga bisa berenang dan snorkeling di sekitar dermaga. Air laut yang jernih membuat keindahan terumbu karang dan berbagai biota laut terlihat begitu jelas.
Bagi pecinta diving, Pulau Tinabo adalah salah satu tempat yang wajib dicoba. Ada beberapa titik penyelaman menarik, seperti Sumur Ikan, Hantu Ceria, Ibel Orange, dan Taman Kima. Selain itu, wisatawan juga bisa mengunjungi Bunging Tinabo dan Pulau Gosong.
Taka Bonerate memang punya pesona yang sulit dilupakan. Dari laut biru, pasir putih, budaya lokal, hingga kehidupan bawah lautnya, semuanya terasa seperti surga tersembunyi. Jadi, kalau kamu pecinta pantai dan laut, hati-hati saat datang ke Taka Bonerate. Bisa-bisa kamu tidak ingin pulang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mongabay