Agam Rinjani. (Instagram/agamrinjani)
SULSEL - Abdul Haris Agam atau yang lebih dikenal dengan nama Agam Rinjani mendadak jadi perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir. Tidak hanya di tanah air, Agam bahkan viral sampai Brasil setelah aksi heroiknya terekam video berhasil mengevakuasi jasad pendaki warga negara asing (WNA) bernama Juliana Marins yang tewas terjatuh di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Agam, seorang porter asal Makassar, bukan orang asing di jalur pendakian Rinjani. Ia telah menjalani profesi ini selama lebih dari 3 tahun, mengenal jalur, titik air, dan medan gunung layaknya halaman rumah sendiri.
Lebih dari itu, Agam sudah lebih 10 tahun menetap di Sembalun, salah satu kawasan pintu masuk utama menuju Gunung Rinjani. Disana ia tidak hanya memandu pendaki, tapi juga sering terlibat langsung dalam berbagai operasi penyelamatan.
Namun, jauh sebelum jadi pemandu di jalur ekstrem, Agam tumbuh dari kehidupan yang keras di Makassar. Lahir dan besar di Kota Daeng, Agam pernah merasakan getirnya hidup dengan menjadi sopir truk sampah semasa duduk dibangku SD.
Agam berjuang di balik kemudi truk dan di antara tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang hingga ia menamatkan sekolahnya. Bahkan, ia mengorbankan waktu belajar dan bermain hanya demi membantu ekonomi orang tuanya.
Tak banyak anak seusianya yang rela berkeringat di antara tumpukan sampah. Namun, Agam menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran tentang kerja keras dan bertahan dalam keterbatasan.
Meski sempat jatuh bangun, semangatnya tak pernah luntur. Filosofinya sederhana, yaitu berbuat baik tanpa pamrih, karena ia pernah merasakan kebaikan orang lain saat tak punya apa-apa.
Baca juga: Modus Tawarkan Penumpang Kamar Gratis, ABK Kapal Feri Rute Siwa-Tobaku Kepergok Cabuli Gadis ABG
Setelah menamatkan sekolah, alumni SMA Cendrawasih itu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Di kampus merah tersebut, Agam mengambil jurusan antropologi, bidang ilmu yang kerap bersinggungan dengan penelitian lapangan dan eksplorasi budaya.
Selain sibuk kuliah, ia bergabung dalam Korps Pecinta Alam (Korpala) yang kemudian menjadi rumah keduanya. Di organisasi itu, ia banyak mengasah kemampuan survival dan teknik evakuasi di medan ekstrem.
Pengalaman panjang sebagai korpala membuatnya terbiasa menghadapi situasi genting. Takdir yang membawanya menuju ketenaran akhirnya datang ketika kabar pendaki asing yang tewas itu sampai ke telinganya.
Singkat cerita, Agam pun terlibat langsung dalam proses evakuasi jasad korban yang berlangsung dramatis dan penuh risiko.
Dalam podcast Denny Sumargo, Agam menceritakan, saat mengetahui kabar tersebut, ia sebenarnya tengah berada di Jakarta, namun ia memutuskan kembali ke Lombok atas dasar kemanusiaan.
“Jadi, posisi saya di Jakarta. Saya lihat di Instagram, ada yang jatuh. Saya periksa, saat saya melihat videonya, oh saya tahu tempat dia jatuh," kata Agam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Denny Sumargo