SULSEL - Beberapa pekan ke depan, seluruh warga Indonesia akan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-81, hari yang sangat dinantikan ini biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, salah satunya upacara yan biasanya diselenggrakan di biasanya di Taman Makam Pahlawan yang berada di Kabupaten Sulawesi Selatan.
Di Sulawesi Selatan terdapat banyak Taman Makam Pahlawan yang berlokasi di kota dan kabupaten dan biasanya dirangkai dengan apel kehormatan dan renungan suci menjelang HUT RI kemerdekaan.
Hal ini biasa dilakukan oleh instansi pemerintah sebagai bentuk semangat patriotisme dan menumbuhkan kesadaran berbangsa bagi generasi penerus di momen jelang HUT RI ke-81 mendatang.
Baca juga: Rekomendasi Destinasi Wisata Edukasi: Monumen Pahlawan di Pantai Losari hingga Kabupaten di Makassar
2 Pahlawan Nasional yang Dimakamkan di Sulawesi Selatan
Pulau Sulawesi punya riwayat panjang perlawanan terhadap penjajah, mulai dari peristiwa Makassar (1660-1669) hingga aksi gerilya yang dilakukan oleh pasukan pimpinan Ranggong Daeng Romo dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pulau ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir tiga tokoh perjuangan yang lahir di luar Sulawesi. Pejuang-pejuang ini adalah orang yang sangat menginspirasi yang berjuang membebaskan Nusantara dari rantai penjajahan.
1. Pangeran Diponegoro (Makassar, Sulawesi Selatan)
Pangeran Diponegoro menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Makassar. Setelah diringkus oleh pasukan pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de Kock pada 28 Maret 1830.
Sebagai akhir dari Perang Jawa (1825-1830) yang melelahkan pemerintah colonial Belanda, putra sulung Sultan Hamengkubuwono II ini dibuang ke Manado bersama anak, istri, dan sejumlah pengikut setianya.
Pangeran Diponegoro hanya tinggal 4 tahun di Manado hingga kahirnya dipindahkan ke Makassar pada tahun 1834.
Sepanjang 21 tahun berikutnya, pangeran yang lahir dengan nama Bendara Raden Mas Antawirya tersebut menghabiskan hari-harinya di salah satu sudut penjara Benteng Fort Rotterdam.
Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855 dan dikebumikan tak jauh dari Fort Rotterdam. Melalui Kepres no.87/TK/1973 pangeran Diponegoro diangerahkan status Pahlawan Nasional.
2. Sultan Hasanuddin (Makassar, Sulawesi Selatan)
Sultan Hasanuddin dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa Sulawesi Selatan.
Akses ke kawasan ini sangat dekat dari Kota Makassar, menggunakan kendaraan darat hanya membutuhkan waktu 30 menit saja.
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 12 Januari 1619 dan meninggal di Makassar pada 12 Juni 1670.
Karena keberaniannya, dia dijuluki Ayam Jantan dari Benua Timur. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
Sultan Hasanuddin diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan SK Presiden No 087/TK/1973 pada tanggal 6 November 1973.
Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada tahun 1631 dengan nama kecil I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape.
Hasanuddin kecil mendapat pendidikan di Masjid Bontoala. Sejak kecil ia sering diajak ayahnya untuk menghadiri pertemuan penting dengan harapan dia bisa menyerap ilmu diplomasi dan strategi perang.
Sejak muda, ia telah menunjukkan bakat kepemimpinan dan strategi militer yang luar biasa.
Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin, Belanda sudah menguasai banyak kerajaan kecil di Nusantara. Hal ini tidak membuatnya gentar atau menyerah.
Bukannya semakin tunduk pada Belanda, Sultan Hassanudin justru mengumoulkan kerajaan-kerjaan kecil lainnya untuk bergabung dan berjuang bersama.
Pertempuran pun terjadi antara Kerajaan Gowa dengan pemerintahan VOC Belanda pada abag ke -16. Saat itu, Belanda masih dibantu Kerajaan Bone.
Namun sayangnya, Sultan Hassanuddin masih tetap unggul dan berhasil menaklukan mereka. Bahkan ia bersama pasukannya berhasil merebut dua kapan Belanda, yaitu Leeuwin dan De Walfis.
Tidak terima dengan kekalahannya, Belanda sontak mengirim pasukan dengan jumlah yang lebih besar di bawah komado Cornelis Spellman.
Pertempuran sengit pun terjadi selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya Kerajaan Gowa menyerah karena kekurangan pasukan.
Kalah dalam pertempuran, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667.
Merasa dirugikan, akhirnya Sultan Hasanuddin memutuskan untuk menyerang kembali Belanda pada 12 April 1668.
Pertahanan Belanda terlalu kuat, Kerajaan Gowa di Bentang Somba Opu berhasil diambil alih. Namun, perlawana terhadap VOC masih terus dilakukan secara sporadic.
Sultan Hasanuddin memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Raja Gowa. Meskipun kalah, ia tetap melanjutkan perjuangannya melawan Belanda sampai akhir hayatnya.
Dan Sultan Hasanuddin tutup suia pada 12 Juni 1670.
Lokasi Taman Makam Pahlawan di Kabupaten Sulawesi Selatan
Selain di Kota Makassar, terdapat pula Taman Makam Pahlawan di kabupaten berikut ini:
Kabupaten Pinrang
· Monumen Taman Pahlawan Palia, Pinrang
· Monumen Taman Makam Pahlawan Suppa di Majennag
Kota Pare Pare
· Monumen Taman Makam Pahlawan Laberru
· Monumen Taman Makam Pahlawan 45/TMP Pacceke
Kabupaten Sidenreng Rappang
· Monumen Taman Makan Pahlawan Ganggawa
Baca juga: Mau Liburan Singkat ke Makassar? Cek Dulu Tips Hemat Ini agar Perjalanan Tenang dan Nyaman
Tata Tertib Ziarah Kubur ke Makam Pahlawan
Dengan melakukan ziarah kunur ke makam pahlawan, kamu dapat mengenang dan menghormati jasa serta pengorbanan para pahlawan.
Dengan cara memanjatkan doa untuk mereka yang telah gugur dalam perjuangan meraih kemerdekaan.
Cara ini juga dilakukan untuk memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air
· Mengucapkan salam
· Membaca istigfar
· Membaca surah Al-Fatihah
· Membaca Surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas
· Memabca Ayat Kursi dan Surah Yasin
· Membaca kalimat tahlil
· Membaca doa ziarah kubur
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Detik.com, IDN Times, Galeriwisata.wordpress.com