Jumat, 10 JULI 2026 • 14:22 WIB

Mengenal Sejarah dan Penetapan Hari Jadi Kabupaten Tana Toraja di Sulsel, Ternyata Begini Awal Mulanya

Author

Foto ilustrasi tradisi unik di Kabupaten Tana Toraja (Gemini AI)

SULSEL - Berbicara mengenai Sulawesi Selatan ingatan publik sontak akan tertuju ke Tana Toraja, salah satu kabupaten yang sudah mendunia berkat wisata budaya serta ciri khas aroma kopi hitamnya yang sangat harum.

Dalam beberapa hari ke depan, kita semua akan dihadapkan dengan bulan Agustus, dimana setiap tanggal 31 diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Hari jadi di Kabupaten Sulawesi Selatan ini diisi dengan berbagai rangkaian acara adat dan festival budaya. Dan setiap tahunnya selalu berlangsung sangat meriah.

Semua elemen masyarakat di Kabupaten Tona Toraja berkumpul untuk merayakan sejarah sekaligus melestarikan warisan leluhur.

Dan 31 Agustus 2026 mendatang merupakan Hari Jadi Kabupaten ke -69 dan Hari Jadi Toraja yang ke-779.

Perayaan ini bukan hanya sekedar keramaian dan bersenang-senang, akan tetapi momen yang sangat penting bagi warga setempat yang dilatarbelakangi sejarah yang panjang.

Baca juga: 5 Rekomendasi Pasar Ikan Hias Termurah dan Terbesar di Sulawesi Selatan, Harga Murah dan Koleksi Lengkap

Artikel ini di bawah ini mengulas mengenai sejarah Kabupaten Tana Toraja, siapa pencetusnya, dan apa saja tradisi unik yang sering digelar oleh pemerintah dan masayarakat setempat setiap tahunnya.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya disini.

Sejarah Kabupaten Tana Toraja

Sebelum menggunakan kata Tana Toraja, kabupaten ini terkenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari Allo yang berarti negeri yang merupakan kesatuan utuh bulat bagaikan bulan dan matahari.

Tana Toraja baru dikenal sejak abad ke-17, yaitu sejak daerah ini mengadakan hubungan dengan beberapa tetangga di daerah Bugis, Bone, Sidenreng dan Lawu.

Arti kata Toraja antara lain berasal dari Bahasa Bugis yang berarti To=Orang, dan Raja = Dari Utara. Pendapat lain mengatakan ToRiaja berarti orang dari Barat.

Pemerintahan di Toraja mulai terbentuk sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1957 yang diperjuangkan oleh W.L Tambing di DPR RI akhirnya dibentuk Kabupaten Daerah Tingkat II Tana Toraja.

Logo Kabupaten Tana Toraja (Facebook)

Peresmiannya dilakukan pada tanggal 31 Agustus 1957 dengan Bupati Kepala Daerah yang pertama bernama Lakkita.

Baca juga: Potensi Besar! Ini Deretan Hasil Bumi dan Komoditas Utama Sulawesi Selatan, Kopinya Diakui Kelas Dunia

Pada tahun 1961 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat Sulawesi Selatan Nomor 2067 A. Administrasi pemerintahan berubah dengan penghapusan Sistim Distrik jadi pembentukan Pemerintahan Kecamatan.

Tana Toraja pada waktu terdiri atas 15 Distrik dengan 410 kampung berubah menjadi 9 Kecamatan dengan 135 Kampung.

Berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tentang pembentukan Desa Gaya Baru, maka ditetapkanlah SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Tana Toraja Nomor 152/SP/1967 tanggal 7 September tentang pembentukan Desa Gaya Baru dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Tana Toraja sebanyak 65 Desa Gaya Baru yang terdiri dari 180 kampung.

Tradisi Unik di Kabupaten Tana Toraja

Tahun sebelumnya, Hari Jadi Kabupaten Tona Toraja bertempat di Lapangan To’Bo’ne, Kelurahan Rante, Kecamatan Makale.

Kegiatan tersebut diisi dengan serangkaian acara yang mengusung tema harmoni manusia, alam dan pencita. Tema tersebut selaras dengan tagline “Tana Toraja Masero” yang pernah diselenggarakan pada 2025 yang lalu.

Momen tersebut bertujuan untuk memperkuat persatuan, melestarikan budaya, dan memperkokoh tekad pembangnan menuju Tana Toraja lebih maju dan sejahtera.

Baca juga: Jangan Sembarangan! Begini Cara Mencuci Sarung Sutera Bugis agar Keindahan dan Nilai Sakralnya Tetap Terjaga

Adapun tradisi unik di Kabupaten Tana Toraja yang masih dilestarikan hingga saat ini, antara lain:

·         Upacara Rambu Solo

Ini adalah ritual pemakaman yang megah dan kompleks, sebuah perayaan hidup yang diakhiri dengan penghormatan tertinggi kepada arwah leluhur.

Rambu Solo bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, dan dalam prosesinya melibatkan seluruh anggota keluarga dan elemen masyarakat.

Dalam upacara ini, ada puluhan ekor kerbau dan babi sebagai sesembahan. Jenazah yang akan dimakamkan atau mungkin telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya dan diawetkan diperlakukan seolah masih hidup dan menjadi tamu di rumah.

Puncak dari acara ini adalah prosesi pengarakan jenazah ke kompleks pemakaman dengan iringan musik dan tarian tradisional.

Rambu Solo adalah manifestasi keyakinan bahwa kematian adalah perjalanan menuju Puya, dan semakin besar upacara yang diadakan, semakin tinggi pula derajat arwah di alam sana.

·         Batu, Gua, dan Pohon Jadi Tempat Persemayaman Terakhir

Tana Toraja punya cara sendiri dalam hal memakamkan jenazah. Bukan di dalam tanah seperti pada umumnya, melainkan di tempat-tempat yang tak biasa, seperti di dalam gua, batu, dan pohon.

Ini mencerminan pemahaman mereka tentang kematian sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

·         Kuburan di Tebing Batu

Di Lemo dan Lokomata ada pemandangan yang tak biasa, yaitu peti mati yang diletakkan di dalam lubang-lubang yang dipahat di tebing batu curam.

Di depan lubang, ada patung katu berwujud mirip jenazah yang dipahat secara mendetail. Pemandangan tersebut menciptakan kesan magis dan sakral yang mendalam.

Baca juga: Somba Opu, Surga Oleh-Oleh Khas Makassar yang Wajib Dikunjungi

·         Kambira, Kuburan Bayi di Pohon

Bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi akan dimakamkan  di dalam lubang pohon Tarra karena diyakini dapaot menyerap roh bayi dan mengembalikannya ke alam.

Luban di pohon seiring waktu akan tertup dengan sendirinya, ini menandakan pohon tersebut seolah erat memluk jasad si bayi. Praktik ini konon jarang ditemukan di tempat lain di dunia.

Makna Logo Kabupaten Tana Toraja

Lambang Daerah Kabuaten Tana Toraja diresmikan pada tahun 1978, terdiri dari lima bagian pokok yang mengambarkan unsur sejarah, sosiologis, kultural, ekonomis, dan patriotik.

Keseluruhannya adalah bagian mutlak yang tak dapat dipisahkan dari Kabupaten Tana Toraja dan Negara Republik Indonesia, yaitu

·         Bintang, melambangkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

·         Rumah Toraja, lambang kebudayaan khas Toraja.

·         Perisai, lambing keamanan, kejujuran dan keuletan menghadapi tantangan alam.

Baca juga: Kunjungi Pulau Sabutung, Wagub Sulsel Salurkan Bantuan UMKM dan Layanan Kesehatan

·         Jalur merah dan kuning, lambing upacara untuk ufuk timur, upacara pengucapan syukur.

·         Warna hitam, lambing upacara kematian.

·         Ukiran pa’tengke lumu berkaitan lambing kerukunan kekeluargaan.

·         Warna biru melambangkan harapan dan cita-cita luhur yang tinggi.

·         Padi dan kopi, lambang kemakmuran.

·         Daun kopi 17 helai hijau, buah kopi 8 biji merah, serta padi 45 butir kuning melambangkan detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1945.

·         Dulang berwarna coklat, lambing susunan hirarki pemerintahan demokratus menuju masyarakat adil dan makmur.

·         Tulisan Tana Toraja diartikan Kabupaten Tana Toraja.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Https://torajatourism.blogspot.com/, Https://polrestanatoraja.com/, Https://www.indonesia.travel/, Https://tanatorajakab.go.id/

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU